Tafsir Tematik

BElajar Metode Tematik

Termonologi tafsir tematik

Beragam tafsir tematik terlahir menunjukkan metode tematik sangat digemari para pegiat akajian Alquran bby @mwiyonoID

Al-Qur'an Shalih li zaman wa makan

Al-Qur'an, ayat-ayatnya statis tidak bertambah dan tidak berkurang, namun penafsirannya terus berkembang by @mwiyonoID

Ajarkan al-Qur'an Sejak Dini

Meskipun tidak tahu maknanya, bacaan al-Qur'an tetap bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya by @mwiyonoID

Panorama Indah

beragam warna by. @mwiyonoID

Biasakan Menulis

Baca-tulis adalah perintah yang muncul di awal-awal turunnya ayat Alquran by @mwiyonoID

Thursday, August 24, 2017

Al-Qur'an berbicara Ikhlas dalam Beramal

Ikhlas secara bahasa berasal dari kata akhlasa-yukhlisu-ikhlās yang berarti jujur, tulus dan rela, sesuai dengan konteks kalimatnya, juga bisa berarti jernih, selamat, sampai, memisahkan diri atau perbaikan dan pembersihan sesuatu. Dalam al Qur'an kata ikhlas terulang 31 kali yang tersebar dalam 18 surat, QS. al-Bayyinah:5, al-A’raf: 29, QS. al-Hijr:40, Az-Zumar: dapat diklasifikasikan secara ringkas
Menurut Muhammad Abduh, ikhlas beragama untuk Allah semata, dengan tidak mengakui makhluk lain ada kesamaannya. Adapaun Imam Ghazali berpendapat, ikhlas adalah melakukan amal kebaikan semata mata karena Allah, 

Perbuatan ikhlas mempunyai peranan penting terhadap sah tidaknya suatu amal perbuatan, paling tidak, ada dua syarat yang harus dijadikan pedoman supaya amal kita diterima oleh Allah oleh Allah, yaitu perbuatan yang dilakukan benar menurut aturan syara’, kemudian amal perbuatan terebut harus bersih, ikhlas semata mata karena Allah swt, terkait dengan tauhid kepada Allah. Dalam al Qur'an Allah berfirman:


الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Ibn Abbas menafsirkan aḥsanu ‘amalan dengan arti paling ikhlas, sedangkan at-Tustari menambahkan dengan penafsiran paling benar dan ikhlas, pendapat yang sama juga datang dari Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat al-A’raf: 29

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)". (QS. al-A’raf: 29)

Ibnu Katsir memberikan komentar, bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat istiqamah, dengan cara mengikuti ajaran Allah dan rasulnya dengan benar dan ikhlas. Amal perbuatan apapun harus disandarkan kepada Allah sebagai tempat tujuannya, itulah yang disebut dengan beragama secara lurus. Allah berfirman

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. al-Bayyinah: 5)

Ikhlas akan menjadi benteng amal paling kuat, hingga Iblispun tak mampu menembusnya, ayat yang paling jelas terkait dengan hal ini adalah firman Allah.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS. al-Hijr: 39-40)
Pada puncaknya, sifat orang yang ikhlas adalah menghadapkan diri secara murni kepada ajaran Allah dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi, hingga menemui kematiannya,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. al-An’am: 162)


وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. ar-Ra’ad: 22)

Perbuatan yang Merusak Ikhlas
Ikhlas dalam beragama sebagaimana pendapat Muhammad Abduh di atas, ialah membersihkan semua prilaku yang bertendensi selain Allah, beralih dengan berprilaku hanya semata-mata karena Allah, bukan untuk popularitas atau anggapan baik menurut orang lain. Dengan demikian, maka hal-hal yang merusak ikhlas dapat diketahui antara lain riya’, sum’ah, nifaq dan yang terpenting lagi adalah tidak menyekutukan Allah (syirk). 

Riya’ adalah penyakit abstrak, namun dapat dideteksi melalui beberapa tanda; perbuatan baiknya bertambah bila mendapat pujian dan berkurang bila mendapat celaan, tekun beribadah di hadapan orang dan malas bila dalam kesendirian, mengaku amal perbuatannya karena Allah tetapi dalam hatinya mengharap pamrih. Dalam QS. al Baqarah: 264, perbuatan riya’ dapat menyapu amal kebaikan sebagaimana debu diatas batu licin yang disapu hujan.

Sum’ah menceritakan perbuatan baiknya kepada orang lain supaya mendapat simpati dari orang lain, Nifaq adalah perbuatan kebajikan di depan orang banyak supaya orang orang menyatakan bahwa perbuatannya itu benar. Hal terpenting yang merusak ikhlas adalah men-sekutukan Allah swt.

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. (QS. az-Zumar:2)
Semoga bermanfaat…!!


Ciputat, 22 Januari 2017

Al-Maut Perspektif Al-Qur'an

Al-maut bentuk masdar dari māta yamūtu, Banyak pengertian tentang hakekat mati, menurut orang yang tidak beragama mati adalah akhir kehidupan, bagi orang beragama adalah permulaan hidup baru, bagi kedokteran mati adalah jika manusia dan segala aorgannya tidak menjalalankan fungsinya. Menurut Charles Culver dan Bernard Gert, kematian adalah kegagalan permanen fungsi organisme secara keseluruhan. 

Term al-maut digunakan al Qur'an sebanyak 138 kali dalam berbagai makna.
a. Ketiadaan hidup,
Kematian adalah ketiadaan hidup dalam pentas dunia, tapi hidup di alam lain.
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS.Ali Imran:169)
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah: 154)

b. Wafat dalam arti tidur Tidur
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. al-An’am:60)
Al Baidhawi mengatakan pada saat mati berpisahnya nafs secara sempurna sedangkan pada saat tidur pemisahannya bersifat sementara

Arti lain dari al-maut berarti belum berwujud, ditunjukkan QS. Al Baqarah: 28, “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”. semua pada awalnya indera ini adalah mati kemudian dihidupkan dan nanti akan dikembalikan ke alam barzakh. Ibn Mas’ud ra, Qatadah dan Ad-Dhahak berpendapat bahwa mereka (manusia) adalah mati dalam tulang rusuk bapak mereka. Kemudian dihidupkan dan dimatikan di dunia ini. Dan masih ada beberapa makna lain, seperti hilangnya rasa hidup (QS. Maryam: 23), atau berarti kerasnya hati (QS Yaasin: 12).

Makna lain yang sejenis (murādif) dengan kematian
Wafat berasal dari kata wafa yang berarti memenuhi, membayar, wafat dalam arti kematian terdapat dalam 24 ayat, antara lain
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ..
Wafat dalam arti memenuhi berarti seseorang tercabut nyawanya karena telah terpenuhi segala rizki dan ajalnya. Sedangkan imsak dalam arti menahan, maksudnya Allah menahan nyawa seseorang dalam genggaman-Nya. Kesimpulan dari al-Raghib yang sangat menentramkan, bahwa istilah wafat dan imsak adalah sebagai salah satu isyarat betapa al Qur'an menilai kematian sebagai jalan menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang lebih mulia dibandingkan dengan keadaan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta imsak berarti menahan di sisi-Nya.

Penyebab kematian
Satu-satunya penyebab kematian adalah ajal, Sakit bukan penyebab kematian. Ajal berarti ghāyah al-waqt (batas waktu). Menurut al Qurthubi, ajal adalah batas waktu yang telah ditentukan (QS.al-Am’am:2), sedangkan Quraish Shihab berpendapat bahwa ajal adalah batas akhir dari sesuatu. Ibn Katsir mengatakan dalam tafsirnya, ajal adalah segala sesuatu yang telah ditentukan waktu kematiannya. 

Kematian yang dimaksud sebagai ajal adalah rahasia tunggal Allah dan semua atas izinnya. Sya’rawi berpendapat, “seandainya ada seseorang yang akan membunih dirinya, maka dia tidak mati walau usahanya maksimal tanpa izin-Nya”

Ruh dan Nafs
Dalam persoalan ruh, kata ar-rūh karya Ibn Qoyyim Jauziah berpendapat, adanya ruh menjadikan kita hidup, yang memberikan kehidupan adalah nafs, karena itu nafs adalah sesuatu yang sangat berharga. Fenomena tidur adalah fenomena keluarnya nafs, bila terjaga maka antara ruh dan nafs menjadi satu. Berbeda dengan kematian yang mengeluarkan ruh secara keseluruhan tetapi setelah dikubur maka nafs akan kembali lagi.

Pencabut ruh adalah malakul maut, Ibn Abbas termasuk at-Thabari berpendapat malaikat maut itu satu tetapi mempunyai pembantu-pembantu yang banyak

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. al-An’am:61)
Ibn Abbas yang menyatakan bahwa malaikat maut itu satu tetapi mempunyai banyak pembatu-pembatu, itulah yang dimaksud dengan rasul-rasul kami, demikian dikemukakan oleh Jarir at-Thabari. Tetapi menurut pendapat al-Jamal, penggunaan jama’ dalam kata rusul dimaksudkan sebagai pengagungan saja. baca juga Kerburukan zina


Semoga bermanfaat,
Ciputat, 18 Desember 2016

Al Qur'an Membincang Takdir

Memang tulisan ini tidak sempurna dalam membincang takdir, paling tidak ini adalah langkah pertama untuk meneliti lebih jauh tentang arti takdir dalam al Qur'an. Kajian tentang takdir ini bukan bermakna tunggal, melalui perbedaan teori takdir tersebut melahirkan berbagai pendapat sesuai dengan faham yang dianutnya, sedikitnya ada tiga pemhaman, kelompok pertama berpendapat bahwa kemampuan manusia adalah segalanya, kelompok ini kemudian disebut dengan qadariyah, kelompok kedua berpandangan bahwa manusia hanyalah menerima, semua telah dikehendaki oleh Allah secara totalitas, kelompok ini kemudian disebuat dengan golongan jabbariyah, ada yang ditengah antara qadariyah dan jabariyah yang disebut dengan ahlisunnah.

Berbicara takdir tentu tidak bisa lepas dari arti qadha-qadar, tak kurang dari 120 ayat dan 58 surat dengan rincian 80 ayat turun di Mekah dan 40 ayat turun di Madinah, antara lain al-Qalam: 25, al Muzammil: 20, al-Mudatsir:18-20, al-A’la:3 dan seterusnya. Adapun yang madaniyah, seperti: al-Baqarah: 20, 106, 109, 236, 259, 264, 284, al-Anfal:41, ali Imran:26, 29, 165, 189. Dll.

Qadha berarti keputusan, takdir, ketentuan, sedangkan Qadar berarti kemampuan, ukuran Qadha dan qadar, ada perbedaan pendapat, sebagian berpendapat misalnya ar-Razi bahwa Qadha’ adalah ketentuan sejak zaman azali (terletak dalam ‘ilmillāh) sedangkan Qadar adalah realisasinya (terletak dalam irādah-Nya), namun adapula yang mengartikan sebaliknya, sedangkan menurut at-Thabari keduanya sama, yakni ketentuan Allah yang bersifat azali yang tertulis di lauh mahfudz., Taqdīr memberikan dua term tersebut, yaitu ketentuan Allah yang terkait dengan sesuaut baik berdasarkan kepastian atau kemungkinan. Term yang lain adalah Allah memberikan kemampuan.

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Yāsin: 38)

Qadariyah, Jabariyah dan posisi Ahlisunnah
Bagi aliran qadariyah, memandang manusia mempunyai kebeasan berkehendak, sedangkan bagi Jabariyah, manusia bersifat dipaksa dalam kehendaknya, adapun Ahlisunnah, berada posisi keduanya, disamping manusia Allah berkehendak, tetapi manusia juga diberi kemampuna untuk memilih (ikhtiyariy). Argumen mereka adalah

Qadariyah
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".. (Qs. Al Kahf:29) atau Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa: 111).

Jabariyah
“....maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya....” (al-Fathir:8) atau “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya....” (QS Al-Hadid :22)

Ahlussunnah
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".(as-Shaffat:96) atau “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (al-Insan:30)

Powered by Blogger.